
Banyak anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dinilai menjadi liar karena mereka tidak mendapat kontrol serta pembinaan sebagaimana mestinya dari partai politik, yang dinilai seharusnya punya peran sebagai layaknya induk bagi para anggota legislatif tadi. Pernyataan itu disampaikan Adhie Massardi dari Gerakan Indonesia Bersih, Kamis (29/7/2010), usai menghadiri peluncuran lembaga riset dan penelitian Sabang-Merauke Circle di Jakarta.
Mereka (anggota DPR) itu kan anak-anak parpol. Yang seharusnya bisa mengatur mereka hanya lah induknya, ya parpol itu.
-- Adhie Massardi
Sikap liar itu, menurut Adhie, tampak salah satunya dari kebiasaan para anggota dewan membolos atau menitip absensi setiap persidangan. Mantan juru bicara kepresidenan era KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu juga menyitir kembali selorohan terkenal Abdurrahman, yang menyebut anggota DPR seperti anak-anak TK. Selorohan itu dinilainya semakin relevan dalam kondisi sekarang.
"Mereka (anggota DPR) itu kan anak-anak parpol. Yang seharusnya bisa mengatur mereka hanya lah induknya, ya parpol itu. Nah, sekarang ini para 'anak TK' itu sudah semakin ditinggalkan dan tidak diurus lagi oleh induk mereka masing-masing sehingga perilakunya menjadi sangat liar," ujar Adhie.
Perilaku liar, lanjut Adhie, juga tampak ketika para anggota DPR mencoba membantah dan melawan saat kinerja mereka diukur melalui daftar kehadiran. Mereka menentang dengan menyatakan anggota DPR tidak seperti buruh yang kinerjanya diukur dari jumlah kedatangan.
"Masalahnya dari sisi indikator apa pun, mulai dari tingkat kehadiran sampai ke kemampuan memenuhi peran dan fungsi legislasinya membuat undang-undang, anggota DPR ini serba kurang. Tambah lagi perhatian mereka ke masyarakat juga praktis tidak ada," ujar Adhie.
Dengan begitu Adhie menambahkan, akan jauh lebih efektif jika masyarakat sipil dalam hal ini mendesak sekaligus memperingatkan parpol untuk mengontrol ketat anggota mereka di legislatif agar tidak berperilaku liar.
Ketidakpedulian yang terjadi selama ini, menurut Adhie, praktis lantaran para petinggi dan fungsionaris parpol lebih asyik mengurusi tawar menawar politik. Selain itu parpol juga dinilai tidak berani bersikap tegas karena mereka secara rutin mendapat setoran dari kolega mereka di DPR tadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar