Rabu, 04 Agustus 2010

Korban Mutilasi Hidung Taliban Mimpi Operasi

Share

Aisha adalah korban kekejaman Taliban. Wanita Afganistan 18 tahun ini harus merelakan hidung dan telinga dipotong suaminya sendiri sebagai hukuman karena pernah melarikan diri dari rumah.

Seperti dikutip dari laman Daily Mail, Aisha kini hidup di sebuah penampungan rahasia khusus wanita di Kabul. Ia sangat memimpikan ada organisasi kemanusiaan yang bersedia menerbangkannya ke Amerika Serikat untuk menjalani operasi rekonstruksi wajah.

Aisha begitu ketakutan mendengar kabar bahwa pemerintah Afganistan sedang mempertimbangkan untuk mengakomodasi kepentingan Taliban dalam politik. "Mereka (Taliban) yang melakukan hal kejam ini kepada saya. Bagaimana kita bisa berdamai dengan mereka?" kata Aisha sambil menyentuh wajahnya yang rusak.

Ketakutan itu juga menghantui sejumlah wanita Afganistan. Mereka khawatir upaya perdamaian yang tengah ditempuh akan semakin mengesampingkan hak-hak perempuan. "Hak Perempuan tidak boleh menjadi korban perdamaian yang tercapai," kata anggota parlemen Fawzia Koofi.

Kisah Aisha yang akan diangkat sebagai berita utama Majalah Time edisi 9 Agustus 2010 itu merupakan potret kekejaman Taliban terhadap warga Afghanistan, terutama wanita.

Kisah tragis itu terjadi setahun silam. Tengah malam, tiba-tiba militer Taliban menggedor pintu dan memerintahkan eksekusi hukuman terhadap Aisha yang berani melarikan diri dari rumah.

Sang suami segera menjalankan perintah itu dengan memotong telinga dan hidung istrinya dengan pisau. Semua tak peduli dengan pembelaan Aisha bahwa ia melarikan diri karena diperlakukan seperti budak oleh suaminya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails