Rabu, 28 Juli 2010

Sedikit PT yang Ramah kepada Tunanetra

Share

Sejumlah perguruan tinggi di Indonesia mulai menunjukkan kepedulian dengan mahasiswa tunanetra dan tunarungu. Secara bertahap, dan juga didukung Yayasan Mitra Netra, perguruan tinggi terus melengkapi fasilitas pembelajaran dan mobilitas bagi mahasiswa yang memerlukan perlakukan khusus tersebut. Menjadi kampus yang ramah bagi tunanetra dan tunarungu, menjadi harapan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) dan sejumlah perguruan tinggi terkemuka.

Dalam seminar pendidikan inklusif di kampus FISIP Universitas Indonesia, Depok, Rabu (28/7/2010) terungkap, karena masih terbatasnya fasilitas pembelajaran, jumlah mahasiswa tunanetra dan tunarungu yang diterima di perguruan tinggi masih dalam hitungan jari. "Kehadiran rekan disabled di kampus merupakan dorongan tersendiri bagi institusi untuk berkejar waktu memenuhi sarana terbaik untuk memfasilitasi proses belajar dan mobilitas mereka di kampus," kata guru besar dan dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Bambang Shergi Laksmono.

Di FISIP UI ada seorang tunanetra, Arif, yang karena disediakan fasilitas khusus untuknya, indeks prestasinya saat ini 3,24. Kehadiran mahasiswa disabled adalah penting. Artinya, pengalaman langsung menangani mahasiswa difabel sangatlah penting. "FISIP UI merasa bahagia dengan kehadiran seorang tunanetra. Ini tidak saja menambah semangat kerja, namun memudahkan kami untuk menerjemahkan istilah kebutuhan khusus dalam kenyataan sehari-hari," tandas Bambang.

FISIP UI terus melakukan implementasi pembenahan sarana umum dan melengkapi sarana belajar yang diperlukan. Untuk itu, fakultas secara bertahap melengkapi sarana perpustakaan dengan layanan komputer dengan piranti JAWS serta printer Braille. Para dosen dan petugas layanan administrasi pendidikan juga diberikan arahan umum untuk memudahkan layanan bagi mahasiswa tunanetra.

Menurut Bambang, perguruan tinggi seharusnya menggunakan kadar inklusivitas sebagai kriteria keberhasilan penyelenggaraan pendidikan dan dapat dijadikan ukuran derajad pelaksanaan nilai-nilai normatif perundang-undangan dan konstitusional. Perguruan tinggi dapat dilihat sebagai agent of moral values.

Pembantu Dekan III Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Asep Supena, mengatakan, saat ini ada 6 mahasiswa tunanetra dan 4 mahasiswa tunarungu menuntut ilmu di UNJ . Para mahasiswa berkebutuhan khusus tersebut selalu berkoordinasi dan akses bagi mereka disediakan.

"Dengar perlakuan yang baik dan pengalaman belajar yang tepat, orang buta dapat menjadi mandiri dan memiliki kepribadian yang kokoh seperti orang awas pada umumnya," kata Asep, yang telah menjadi partner Mitra Netra merintis pusat layanan untuk tunanetra di UNJ.

Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra, Bambang Basuki mengatakan, di samping UNJ, UI melalui dorongan dari komunitas penyandang disabilitas lainnya, saat ini telah merintis pusat layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

Layanan mendasar yang disediakan adalah layanan alat bantu teknologi, berupa penyediaan komputer yang dilengkapi dengan perangkat lunak pembaca layar, yang biasa disebut komputer bicara, serta scanner yang dilengkapi dengan software optic character recognition (OCR) yang paling accessible untuk tunanetra.

"Dengan bantuan alat-alat tersebut, tunanetra terbukti dapat mengakses referensi dengan lebih mandiri, yaitu dengan cara scanning atau memindai buku-buku referensi yang harus dibaca, kemudian membaca soft file hasil pemindaian tersebut dengan menggunakan komputer bicara. Di samping itu, tugas-tugas kuliah pun dapat mereka kerjakan dengan lebih mandiri dan tepat waktu," jelas Bambang Basuki.

Ketersediaan alat bantu teknologi adalah salah satu aspek yang harus dipenuhi untuk membangun kampus yang ramah bagi tunanetra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails